latihan menulis

Menghadapi Mbakyu yang Bossy

Layar hape bergetar dan memunculkan tanda ada telpon masuk. Mbakyu saya.

“Ya… ” jawab saya, usai menggeser gambar telepon berwarna hijau ke atas. Kata “ya” memang saya panjangkan. Ini gaya saya, gabungan antara lagi ga sibuk-sibuk amat, tetapi bisa menduga apa yang bakalan terjadi.

“Sori telpon neh. Ki arep diskusi tentang … “. Kalimat-kalimat berikutnya meluncur deras. Jika berupa air, pasti sudah menggenangi dapur tempat saya menerima telponnya. Saya diam mendengarkan hingga akhirnya dia berhenti berbicara dan bertanya, “Piye menurutmu?”

Mbakyu saya lima tahun lebih tua. Sejak kami kecil, saya akui, saya sering sebal dengan dia. Saya tahu, dia juga lebih sering sebal dengan adiknya yang bungsu ini. Haha.

Ada satu sifat yang paling nyebelin dari mbakyu saya, yang bertahan dari dulu hingga sekarang. Sikapnya yang bossy! Di keluarga Jawa yang berbau patriarkis, yang namanya anak sulung itu memang sebuah privilege, alias keistimewaan. Anak sulung, hobinya nyuruh-nyuruh adiknya. Semacam jabatan bos itu otomatis menempel hanya karena dia lahir duluan.

Saya, bukan menolak diperintah atau tak bisa menghormati sistem hirarkis. Lihat-lihat situasi dan menyesuaikanlah. Contohnya? Ketika dulu saya kerja kantoran (dan yang namanya berlibur adalah sebuah kemewahan), beberapa kali saya berlibur dan menumpang di rumah mbakyu saya. Tapi ya itu tadi. Namanya juga liburan. Kadang saya hanya ingin menghabiskan waktu untuk tidur. Tetapi mbakyu saya berpendapat lain. Dia akan menanyakan rencana saya. Sebentar kemudian dia akan jelaskan rute yang sebaiknya saya ambil, jam berapa sebaiknya saya berangkat, dan kendaraan dia yang sudah dia siapkan untuk dipakai. Huuaaaaa… Ini liburan saya, dan saya bukan artis… kenapa jadi ada personal manager dadakan begini ya?

Mungkin statusnya sebagai sulung dan pengalaman kerjanya sebagai Office Manager di beberapa lembaga internasional, yang membuat mbakyu saya mengidap CF alias control freak. Helloww.. Tahu sih, banyak orang memang perlu diatur. Bahkan sudah diatur pun banyak orang tidak lancar menjalankan tugasnya. But, sometimes just let things flow and unfold naturally.

Saya sepertinya sudah hapal sifat mbakyu saya, termasuk soal CFnya itu tadi. Jadi, saya punya trik untuk menghadapinya. Saya bukan orang yang gila status dan kekuasaan. Buat saya, kalau ada orang mau repot-repot mengendalikan dan mengelola situasi, sumangga saja. Malah seneng. Tinggal ngikut aja, kan? Sudah beres. Terkait dengan ini, saya justru pernah dimarahin paitua.

“Itu Mbakyu datang ke rumah kita, kok malah dia yang bikin minum dan masak buat semua?”
Paitua sempat berang ke saya. Waktu itu mbakyu dan keluarga berlibur ke Bali, dan menginap di rumah. Saya bilang ke paitua, itu mau dia. Biarin saja. Mbakyu ga bisa nganggur, dia pasti cari-cari kegiatan. Begitu penjelasan saya.

Tapi ada saat-saat saya keukeuh ngeyel dan menolak perintah mbakyu saya. Yang ini lupa contohnya. Terlalu personal untuk diceritakan sih, lebih tepatnya. Haha.

Seringkali, yang nyebelin itu bukan hanya soal perintahnya, tetapi termasuk cara menanggapi pendapat orang yang berbeda. Seakan, pilihan dia adalah sebuah ultimatum. Yang ini kadang yang membuat perdebatan sengit terjadi meskipun sebenarnya tak perlu. Biasanya diperparah saat suasana hati buruk, dan atau fisik sedang lelah.

Tadi, suasana hati saya lebih baik dari kemarin. Sepertinya dia juga. Kesadaran diri jadi lebih bisa dijaga. Kami bisa berdiskusi dengan lancar, dan mendapatkan poin-poin pembicaraan yang penting. What a fruitful discussion!

Ya, saya tahu sih, yang namanya anak sulung itu dituntut punya tanggung jawab lebih dibandingkan adik-adiknya. Saya, kalau bisa memilih, akan tetap memilih jadi anak bungsu seperti sekarang ini. Haha. Bisa punya waktu senggang nulis tentang mbakyunya yang bossy, sementara mbakyunya jam segini pasti sudah terlelap karena besok jadwalnya padat ngurus banyak orang. Jadwal saya besok? Jalan pagi sama Mochi, nerusin aduk-aduk tanah di halaman belakang, nodong paitua minta stok kopinya, serta malamnya melototin hape demi latihan nulis lagi. Life is too short to worry too much, right? (ras)

PS: Ini tugas menulis (opsional) untuk memraktekkan CERPENTING (cerita pendek tidak penting) yang berusaha memberikan SOUL dalam tulisan. Saya sedang mengikuti The Writers, sebuah pelatihan menulis via WA grup, Angkatan ke-2, dimentori oleh Budiman Hakim (Om Bud) dan Asep Herna (Kang Asep), yang berlangsung sejak 18 Juni 2019, tiap Selasa Rabu Kamis, total 12 kali.

Tulisan tentang pelatihan ini, bisa dibaca di blog LiterAsih, sesama peserta di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s